|
Friday, 25 April 2008 |
|

Pameran Senirupa / Visual arts exhibition Agung Yuliansyah Djoned Koesoemadi Dul Akhmad Besari Harmanto Kokoh Nugroho Pramuji Nugroho Putut Wahyu Widodo KURATOR : HERU HIKAYAT 26 April - 26 Mei 2008 Dahara Gallery Jalan Dorang 7 Semarang Telp.024.3511172 e-mail :
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
. |
|
|
Friday, 25 April 2008 |
| Genggam 2007, dengan harapan baru, ( jika tak lagi bencana murka ) bagi seniman harapan itu tentunya dinyatakan, dalam bentuk karya, Dahara Gallery berbahagia bisa menggelar pameran karya-karya baru para perupa muda dari pelbagai kota : Bandung, Semarang, Surabaya, Surakarta, Yogyakarta, Mari kenal dan kenanglah mereka : Aji Yudalaga. Arianto, Awan Yossefani, Herman Lexstiawan, Kokoh Nugroho, M.Rizky, Radi Arwinda, Ronal Efendi, Sigit Tamtomo,Tri Wahyudi, Tutut Hari Prabowo, Vani HR dan Yulius HP Dengan kreativitas yang tinggi para perupa ini akan mepertanggung jawabkankan status kesenimannya | |
|
Read more...
|
|
|
Tuesday, 08 April 2008 |
|
ETALASE DUNIA RUPA Semarang, 12 Maret-15 April 2006 Pembacaan atas teks dalam karya apa pun (seni) menjadi hal yang penting di dalam merayakan perhelatan kesenian. Pembacaan atas teks itu tentu tidak semata-mata milik (otoritas) pengamat, kritikus , dan kurator saja. Apresiasi masyarakat pun diperlukan sebagai penyangga (barometer) perkembangan kesenian. Dunia seni rupa Semarang, sedang giat giatnya membangun pewacanaan tersebut. Tentunya memang tidak serta merta sikap demikian menggelinding begitu saja. Maka dibutuhkan banyak peran yang mendorong lajunya tradisi tersebut. Salah satu peran yang berfungsi langsung terhadap karya seni rupa adalah adanya ruang rupa seperti galeri. Karena fungsi utama Galeri adalah memamerkan karya seniman rupa. Dari sinilah tentunya sikap Galeri terhadap kerja apresiasi karya-karya yang hendak dipamerkan menjadi signifikan. Dahara Gallery dalam program Etalase Dunia Rupa, mencoba menggulirkan kembali apresiasi dan pasar yang tidak sekadar wacana. Tetapi mempraktikkan dunia pasar yang remang-remang tentu butuh suatu penyikapan tersendiri. Apakah benar pasar itu bisa dibaca dan dipelajari sebagai seremoni penggenapan karya pamer. Di sinilah peran Galeri tentu dibutuhkan. Galeri pun punya alasan dalam memilih karya-karya yang hendak dipamerkan. Dan subjektifitas galeri tentu bisa dipahami berkaitan dengan visi dan misi dalam pencitraan karakter yang hendak dibangunnya. Pameran Etalase Dunia Rupa disamping mengambil alasan tersebut diatas, juga bermaksud mengapresiasi kembali karya-karya pelukis yang bertebar di pameran-pameran (baca: lokal) untuk dibaca kembali, sekaligus memperluas jaringan publisitasnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengayakan informasi tentang keberadaan sang pelukisnya. Alasan lain juga diharapkan mampu menghangatkan lagi tafsir-tafsir yang tak selesai di apresiasikan. Pameran yang tidak menjeratkan tema khusus ini, dimaksudkan agar kita lebih bisa membaca keutuhan ide setiap karya. Demikian juga karya yang ditampilkan tidak harus berlabel (tahun) pembuatan yang baru. Bisa menjadi pengamatan intensitas akan pergulatannya. Paling tidak untuk sekadar memudahkan "pembedaan". Sekarang ini lagi musim karya "abrakadabra"( sulapan ) yang muncul di ruang pamer., dengan pewacanaan yang berlebihan. Atau hari gini (dimana media,teori akademi dan buku sama sama di baca) masih saja orang menjelaskan batasan seni rupa dengan rezimitas bahasa yang hiperbola. Semacam ada stigma dunia rupa kita dungu tak berkembang. Dunia rupa (baca: dari dulu) demikian terbukanya, sehingga siapa pun (entah apapun) boleh membahasakan sebebas-bebasnya, serumit-rumitnya, tapi eksistensi ada di tangan perupa sendiri. |
|
Read more...
|
|
|