|
ETALASE DUNIA RUPA Semarang, 12 Maret-15 April 2006 Pembacaan atas teks dalam karya apa pun (seni) menjadi hal yang penting di dalam merayakan perhelatan kesenian. Pembacaan atas teks itu tentu tidak semata-mata milik (otoritas) pengamat, kritikus , dan kurator saja. Apresiasi masyarakat pun diperlukan sebagai penyangga (barometer) perkembangan kesenian. Dunia seni rupa Semarang, sedang giat giatnya membangun pewacanaan tersebut. Tentunya memang tidak serta merta sikap demikian menggelinding begitu saja. Maka dibutuhkan banyak peran yang mendorong lajunya tradisi tersebut. Salah satu peran yang berfungsi langsung terhadap karya seni rupa adalah adanya ruang rupa seperti galeri. Karena fungsi utama Galeri adalah memamerkan karya seniman rupa. Dari sinilah tentunya sikap Galeri terhadap kerja apresiasi karya-karya yang hendak dipamerkan menjadi signifikan. Dahara Gallery dalam program Etalase Dunia Rupa, mencoba menggulirkan kembali apresiasi dan pasar yang tidak sekadar wacana. Tetapi mempraktikkan dunia pasar yang remang-remang tentu butuh suatu penyikapan tersendiri. Apakah benar pasar itu bisa dibaca dan dipelajari sebagai seremoni penggenapan karya pamer. Di sinilah peran Galeri tentu dibutuhkan. Galeri pun punya alasan dalam memilih karya-karya yang hendak dipamerkan. Dan subjektifitas galeri tentu bisa dipahami berkaitan dengan visi dan misi dalam pencitraan karakter yang hendak dibangunnya. Pameran Etalase Dunia Rupa disamping mengambil alasan tersebut diatas, juga bermaksud mengapresiasi kembali karya-karya pelukis yang bertebar di pameran-pameran (baca: lokal) untuk dibaca kembali, sekaligus memperluas jaringan publisitasnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengayakan informasi tentang keberadaan sang pelukisnya. Alasan lain juga diharapkan mampu menghangatkan lagi tafsir-tafsir yang tak selesai di apresiasikan. Pameran yang tidak menjeratkan tema khusus ini, dimaksudkan agar kita lebih bisa membaca keutuhan ide setiap karya. Demikian juga karya yang ditampilkan tidak harus berlabel (tahun) pembuatan yang baru. Bisa menjadi pengamatan intensitas akan pergulatannya. Paling tidak untuk sekadar memudahkan "pembedaan". Sekarang ini lagi musim karya "abrakadabra"( sulapan ) yang muncul di ruang pamer., dengan pewacanaan yang berlebihan. Atau hari gini (dimana media,teori akademi dan buku sama sama di baca) masih saja orang menjelaskan batasan seni rupa dengan rezimitas bahasa yang hiperbola. Semacam ada stigma dunia rupa kita dungu tak berkembang. Dunia rupa (baca: dari dulu) demikian terbukanya, sehingga siapa pun (entah apapun) boleh membahasakan sebebas-bebasnya, serumit-rumitnya, tapi eksistensi ada di tangan perupa sendiri.
YANG LEPAS DAN YANG PUTUS
Menelisik suatu karya lukisan, berarti kita dihadapkan dunia (baru)imaji yang dibangun sang pelukisnya. Satu dunia yang dibangun dengan semangat yang serius dan kreatif, tentu akan di baca oleh sejarah. Pada ruang galeri ini tujuh pelukis (semarang) lintas generasi memamerkan sebagian karya pilihannya, tentunya menarik untuk di cermati. Noehoni HR dengan kekuatan sketsanya , terasa ada pengaruh terhadap karya cat minyak di atas kanvasnya. Lewat sapuan kuasnya yang ekspresif, Noehoni mampu menghidupkan objek di dalam tema lukisannya. Karya Noehoni tampak matang pada periode ini. Tema-tema yang digarapnya cenderung terlihat sederhana. Seperti karya "Menunggu Masa" yang menggambarkan seorang tua yang duduk bertopang dagu. "Topeng topeng", menunjukan khas Noehoni dalam memilih subject matter pada ruang kanvasnya. Beberapa karyanya yang lain menunjukkan hal yang sama dan tidak mengada ada. Lebih mengedepankan pengendapan. Seperti pada "menganyam cinta 54 tahun","Sang Pamomong",Mawar dan Draperi" adalah karya drawaing pada akhir akhir ini. Aulia Kastari, pelukis yang dikenal dengan teknik pisau paletnya sempat di ampu Moses Mesdy- ternyata tidak mewajibkan dirinya melukis objek landscape ataupun bunga-bunga saja. Kastari memanfaatkan teknik pisau palet dan tekstural untuk memotret kehidupan sosial yang menggelitik nuraninya. Seperti lukisan yang berjudul "Barikade" dengan fokus derap kaki serdadu dengan tongkat. Dia hendak mengkritisi tradisi unjuk kekuatan yang berpola militerisme pada elemen masyarakat dewasa ini. Ari S Jabo tetap bertahan gaya dekoratif dan sempat memahfumkan dirinya sebagai pelukis reptil tokek. Coraknya elemen dekoratif tradisional dan kontemporer dengan tokek yang selalu terlibat di atas kanvasnya, ternyata tidak menyempitkan gerak kreatif nya. Dengan kesegaran pola ornamen dan tema yang dibangun di atas gagasannya, ruang ruang kanvasnya seperti medan yang bebas dan eksploratif. Tokek di mata Ari adalah simbol mistis dalam masyarakat. Hal ini digambarkan pada lukisan yang berjudul "Membaca Zaman". Simbolisasi kultur adalah tema khas karya-karya Ari, seperti judul "Black and White ", "Formasi Decora" pada ruang pamer galeri ini. Gafur Bahroto yang mentasbihkan diri ke aliran surealis ( semarang) gelisah menguak mimpi buruk di balik kelambu kekelaman, kefanaan, keasingan, dan keterbelengguan. Hal ini tercermin pada karyanya yang berjudul "Lotus". Pada kanvasnya dia memasukkan tubuhnya dengan tangan yang terbelenggu dengan simpul bunga lotus di dadanya yang terbelah. Sepertinya pelukis ini ingin bicara makna kehidupan diantara batas ada dan tiada. Objek-objek gambaran mimpi ini mengaliri arus karya-karyanya seperti pada judul "Sickness" dan "Ada Apa Kartini" pada judul "Gravitasi" ada nuansa melankoli yang menyiratkan segala sesuatu akan menuju renta dan tak berdaya, dengan kekuatan teknik realis dan warna yang murung karya Gafur menawarkan tafsir yang imajinatif. Gunawan karyanya kental aroma kontemporernya. Dia mencoba setia membidik objek fenomena sosial yang berbasis kekerasan. Tema yang mencekam dengan gaya minimalis ini mengambil simbol ayam yang digantung dengan keadaan tersembelih pada judul "Kedamain yang Terpenggal I dan II". Gunawan seperti hendak memaknai peristiwa kekerasan yang mudah tersulut dimana-mana. Kedamaian sudah terusik, hingga tradisi yang awalnya mampu mengontrol sosial pun sudah carut-marut tanpa bentuk tergambarkan lewat judul "Kontradiksi Disharoni". Maxon nuansa kontemporer tampak dominant, sebelumnya dia lebih berkutat pada modern art yang meng ekspose tema artefak bangunan kuno, kali Maxon melibatkan diri pada persoaalan social dalam karyanya, Pada judul "Lost Imagine" symbol visualnya terasa puitis. Asbak dengan asap rokok dengan bayangan perempuan telanjang, menyiratkan pikiran yang tersesat pada pornografi, karya lainya seperti " Blue Rose","Bali mistic",warna warna Maxon cenderung klasik simple , sebagaimana tema tema dalam lukisannya yang cenderung sederhana dengan panorama sehari hari. Prie (pelukis perempuan) pada pameran kali ini, merekam tema keseharian dan kekinian. Seperti pada judul "Sex Is Life and Food", ia hendak menyampaikan pandangannya bahwa sex ( di simbolkan buah kuldi)tidak semata mata kebutuhan manusia. Mahluk hidup yang lain seperti binatang, tumbuhan, bahkan alam juga memiliki kebutuhan yang sama. Kadang melukis juga bisa menjadi catatan harian sang pelukisnya. Pada judul "Biografi Kuning", Prie mencoba memasukkan simbol-simbol privasinya sebagai tempat menyimpan kenangan.ikon-ikon yang digambarkan seperti bibir, telepon genggam, bra hitam, dan tulisan romantis. Hal yang sama pada judul "Biografi Hitam Putih". Pelukis Prie menyimpan lagi kenangannya (cintanya) lewat bahasa simbol. Bulu bulu kucing yang dilukis dengan warna hitam putih ada tanda sapuan merah lalu tulisan luka, tentu ada yang hendak di maknakan pada memorintya. Karya Prie tampak terkesan naratif dengan simbol yang aktual dengan tehnik"Postering" yang ekspresif di atas warna warna yang kontras, pelukis ini seperti hendak menekankan minatnya terhadap gaya kontemporer..(Mahmoud elqadrie) |